Kalau saja bukan karena kemahabesaran Allah SWT, hidup manusia pasti terasa hambar. Penciptaan manusia adalah puncak kreatifitas. Kreatifitas adalah gabungan dua unsur: fungsi dan keindahan.
Tubuh seseorang tersusun dari air yang cukup untuk mengisi penuh 10 galon penampungan; minyak yang cukup untuk membuat berbatang-batang sabun; karbon yang cukup untuk membuat 9000 pensil; fosfor yang cukup untuk membuat 2200 pentol korek api; besi yang cukup untuk membuat pasak berukuran sedang; kalsium dan sedikit magnesium.
Dari mana manusia mencukupkan diri dengan unsur-unsur yang diperlukan tubuhnya ini?
“hendaklah manusia merenungkan makanannya”, kata al-Qur’an. (Q.S. Abasa, 24).
Manusia perlu air, namun kebutuhan airnya tidak hanya bisa dipenuhi air putih saja, tapi segala minuman dengan bermacam kelezatan rasa yang mengundang selera: jus, teh, es buah, minuman ringan dan lain-lain. Manusia perlu minyak yang dicukupi dengan mengkonsumsi makanan berlemak. Dan begitu seterusnya manusia memenuhi keperluan tubuhnya.
Di sinilah letak indahnya hidup. Yang fungsional-fungsional untuk badan bisa disediakan oleh yang indah-indah. Yang indah-indah ini pun semakin indah dengan begitu kayanya seni masak memasak yang berbeda dari bangsa ke bangsa.
Di sinilah pula, letak kesempurnaan penciptaan manusia. Sistem fisiologisnya berbeda dari benda atau hewan. Kalau mobil ngambek tidak mau jalan, “perut” nya cukup diisi bensin atau solar dan ia akan kembali meraung begerak. Kalau sapi perlu makan, ia akan mencari rumput dan dedaunan. Tapi manusia jauh lebih kompleks dan lebih indah dari semuanya.
By design, manusia diberikan tingkat fungsional dan keindahan perangkat tubuh yang mengalahkan semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. Kita diberi dua mata, tidak satu, agar bisa menangkap obyek tiga dimensi. Kita diberi dua telinga, tidak satu, agar bisa mendeteksi arah suara. Kita diberi dua kaki, tidak satu, agar bisa mempertahankan keseimbangan dalam gerak. Semuanya canggih dan indah sekaligus.
“sungguh telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna”, kata al-Qur’an (Q.S. at-Tin, 4).
Allah SWT menyediakan ruang dan kondisi agar manusia bisa melanjutkan hidup. Jarak bumi dari matahari memungkinkan ada dan berlangsungnya kehidupan di planet ini. Satu jarak dari matahari, yang jika lebih dekat akan membuat makhluk hidup di atasnya akan terpanggang kepanasan; dan jika lebih jauh, akan membeku kedinginan. Diciptakan-Nya lintasan bumi berbentuk elips dengar gravitasi yang tepat terukur, tidak bundar, agar ia tidak tersedot atau terpental dari matahari yang juga berputar. Bulan dijadikan-Nya sebagai satelit bumi untuk melindunginya dari serangan komet dan sejenisnya dan menjadikan kecepatan gerak putar bumi tetap stabil. Diberikan-Nya bumi, gaya gravitasi yang tepat, agar ketika berjalan kita tidak melayang atau tersedot.
Diatur-Nya alam dengan hukum-hukum yang pasti agar manusia bisa menatanya setelah hukum-hukum itu diketahuinya. Hukum-hukum yang memungkinkan manusia terbang melintasi benua dengan “burung besi”, menyeberang lautan dengan kapal-kapal besar, berbicara dengan kerabat yang berjarak ribuan kilometer dengan telepon genggam, melintasi dua tepi sungaiatau selat dengan jembatan layang, membendung air dengan dam-dam besar untuk pertanian, mesiasati keterbatasan lahan dengan gedung-gedung pencakar langit. “Semakin dalam dan luas pengetahuan manusia terhadap hukum-hukum alam, semakin merdekalah ia”, kata Ibnu Rusyd.
Dalam al-Qur’an : “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang".” (Q.S. Ibrahim, 32-33).
Pernah ada nada pesimis bahwa manakala laju pertambahan penduduk bumi terus bergerak, bumi tidak akan mampu lagi menampung manusia; alam tidak lagi cukup memberi persediaan makanan, namun pesimisme itu toh tak terbukti. Penduduk bumi kini telah lebih dari enam milyar orang, namun bumi masih layak huni dan masih menyediakan bahan makanan. Kelaparan terjadi bukan karena sumber alamnya kurang, namun karena keserakahan sebagian manusia yang mengambil lebih dari kebutuhannya dengan mengorbankan orang lain. Allah maha adil, semua sudah terukur dengan sangat teliti.
Setelah diciptakan dan diberi lingkungan yang menjamin keberlangsungan hidupnya, manusia tidak dibiarkan hidup tanpa arah. Sang Pencipta memberinya petunjuk. Apa perlunya hidup di muka bumi ini, apa tujuannya dan kemana akan kembali. Ibarat mobil, setelah diproduksi, diisi bahan bakarnya, dipastikan layak jalan, pengemudinya diberi peta tujuan hendak pergi kemana agar tidak berputar-putar dan tersesat jalan.
Manusia hidup di dunia tidak selamanya; tidak juga seperti tumbuhan atau hewan yang lahir, tumbuh, mati dan selesai. Manusia diberi arah, hidayah, petunjuk kemana menuju. Visi macam inilah yang membuat hidupnya berguna, menanjak naik dari sekedar entitas fisiologis yang tidak beda dengan makhluk hidup yang lain, menjadi makhluk rasional, menanjak ke makhluk yang spiritual. Ibnu Khaldun dengan sangat cantik merunut tingkat-tingkat kehidupan dari tumbuhan tingkat rendah, tumbuhan tingkat tinggi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, manusia tingkat rendah dan manusia tingkat tinggi.
Seperti para Nabi dan Rasul yang meskipun tetap dalam kemanusiaannya, berjalan di pasar, bergaul dengan sesama manusia, namun spiritnya bersambung dengan alam yang lebih tinggi; alam darimana wahyu datang memberi petunjuk. Wahyu yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an dan Sunnah yang menjadi sumber petunjuk bagi manusia agar hidupnya tidak berputar-putar sia-sia, tapi bergerak memiliki visi dan tujuan: menebar amal saleh di dunia dan meraih balasan baik di akherat.
Karena tiga karunia inilah: karunia diberi hidup (ni’mat al-iijad), karunia diberi segala fasilitas yang menjamin keberlangsungan hidup (ni’mat al-imdaad), dan karunia diberi petunjuk dalam hidup agar tidak sia-sia (ni’mat al-huda wa ar-rasyaad), manusia mesti bertima kasih (syukr) kepada Allah SWT.
Showing posts with label syukur. Show all posts
Showing posts with label syukur. Show all posts
Friday, May 15, 2009
Friday, April 11, 2008
Setiap Orang itu Kaya
“Sedikit sekali kalian bersyukur”, demikian Allah menegaskan dari ayat-Nya. (QS. Al-Mulk, 23).
Inilah salah kaprah yang paling banyak terjadi dalam masyarakat kita. Kekayaan selalu diukur dari materi. Seseorang baru dianggap kaya, misalnya, kalau sudah punya beberapa mobil merci terbaru, sekian rumah mewah, uang simpanan milyaran rupiah dan seterusnya. Jarang sekali yang menyadari bahwa sejak baru lahir sekalipun, seseorang sudah sangat kaya.
Ia diberi jantung misalnya. Jantung ini terus bekerja memompa darah untuk didistribusikan ke seluruh organ tubuh sepanjang usianya. Bahkan ketika ia tidur sekalipun, jantung terus bekerja. Ia terus berdetak tanpa henti 100 ribu kali dan memompa 4 ribu galon per hari selama 60 tahun, 70 tahun atau 80 tahun sepanjang usia pemiliknya. Tidak ada satu mesin buatan manusia yang bisa berkerja non stop dalam waktu lama seperti ini, secanggih apapun ia. Kalau terus dipaksa bekerja, ia pasti aus dan bisa jadi meledak. Kekayaan diri yang bernama jantung ini, tidak bisa dihargai materi berapapun jumlahnya.
Ia diberi pembuluh darah yang menjadi pipa penyalur makanan dalam jaringan tubuh. Sebuah jaringan yang sangat rumit. Jika diulur, pembuluh darah seseorang bisa jadi sepanjang 100 kilo meter. Ia diberi mata yang bekerja sangat teliti, menangkap warna yang indah, obyek tiga dimensi, menikmati indahnya matahari tenggelam yang beranjak sujud kepada Tuhannya. Ia diberi telinga, sebuah sistem pendengaran yang bahkan bisa menangkap segala suara; suara yang melenakan atau mengerikan. Ia diberi otak yang kalau kecanggihan dan kemampuan kerjanya bisa diterjemahkan menjadi mesin komputer, maka harganya mencapai 100 triliyun rupiah!
Bukankah, dengan demikian, setiap orang sebenarnya amat sangat kaya? Tetapi mengapa jauh lebih banyak orang yang merasa kurang ketimbang merasa cukup, apalagi berlebih?
Itulah manusia. Dalam urusan dunia, mereka selalu melihat ke atas. Akibatnya, mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang! Orang macam ini tidak akan pernah terpuaskan kecuali jika ia sudah tiba saatnya dimasukkan ke liang kubur. Itulah peringatan al-Qur’an, “kalian dilenakan dengan perlombaan memperbanyak kekayaan dunia, sampai tiba saatnya kalian harus masuk liang kubur”. (QS. At-Takatsur, 1-2).
Apakah kita mesti menunggu masuk kuburan untuk bisa bersyukur? Tentu tidak bukan? Sebab ketika seseorang sudah saatnya masuk kubur, ketika kematian datang menjemputnya, ia sudah tidak lagi bisa berbuat apa-apa, tidak ada lagi waktu untuk bersyukur. Oleh karena itu, sebelum waktunya habis, mestinya kita segera membalik paradigma bahwa apapun yang sudah Allah berikan kepada kita, itu sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat kita senantiasa berterima kasih kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya.
Kesadaran yang paling baik adalah yang lahir dari dalam hati, bersemi, dirawat, berkembang besar sampai memberikan buah dalam kehidupan kita sehari-hari. Semakin seseorang tahu hakikat dirinya, semakin pintar ia bersyukur kepada Penciptanya.
Inilah salah kaprah yang paling banyak terjadi dalam masyarakat kita. Kekayaan selalu diukur dari materi. Seseorang baru dianggap kaya, misalnya, kalau sudah punya beberapa mobil merci terbaru, sekian rumah mewah, uang simpanan milyaran rupiah dan seterusnya. Jarang sekali yang menyadari bahwa sejak baru lahir sekalipun, seseorang sudah sangat kaya.
Ia diberi jantung misalnya. Jantung ini terus bekerja memompa darah untuk didistribusikan ke seluruh organ tubuh sepanjang usianya. Bahkan ketika ia tidur sekalipun, jantung terus bekerja. Ia terus berdetak tanpa henti 100 ribu kali dan memompa 4 ribu galon per hari selama 60 tahun, 70 tahun atau 80 tahun sepanjang usia pemiliknya. Tidak ada satu mesin buatan manusia yang bisa berkerja non stop dalam waktu lama seperti ini, secanggih apapun ia. Kalau terus dipaksa bekerja, ia pasti aus dan bisa jadi meledak. Kekayaan diri yang bernama jantung ini, tidak bisa dihargai materi berapapun jumlahnya.
Ia diberi pembuluh darah yang menjadi pipa penyalur makanan dalam jaringan tubuh. Sebuah jaringan yang sangat rumit. Jika diulur, pembuluh darah seseorang bisa jadi sepanjang 100 kilo meter. Ia diberi mata yang bekerja sangat teliti, menangkap warna yang indah, obyek tiga dimensi, menikmati indahnya matahari tenggelam yang beranjak sujud kepada Tuhannya. Ia diberi telinga, sebuah sistem pendengaran yang bahkan bisa menangkap segala suara; suara yang melenakan atau mengerikan. Ia diberi otak yang kalau kecanggihan dan kemampuan kerjanya bisa diterjemahkan menjadi mesin komputer, maka harganya mencapai 100 triliyun rupiah!
Bukankah, dengan demikian, setiap orang sebenarnya amat sangat kaya? Tetapi mengapa jauh lebih banyak orang yang merasa kurang ketimbang merasa cukup, apalagi berlebih?
Itulah manusia. Dalam urusan dunia, mereka selalu melihat ke atas. Akibatnya, mereka selalu merasa kurang, kurang dan kurang! Orang macam ini tidak akan pernah terpuaskan kecuali jika ia sudah tiba saatnya dimasukkan ke liang kubur. Itulah peringatan al-Qur’an, “kalian dilenakan dengan perlombaan memperbanyak kekayaan dunia, sampai tiba saatnya kalian harus masuk liang kubur”. (QS. At-Takatsur, 1-2).
Apakah kita mesti menunggu masuk kuburan untuk bisa bersyukur? Tentu tidak bukan? Sebab ketika seseorang sudah saatnya masuk kubur, ketika kematian datang menjemputnya, ia sudah tidak lagi bisa berbuat apa-apa, tidak ada lagi waktu untuk bersyukur. Oleh karena itu, sebelum waktunya habis, mestinya kita segera membalik paradigma bahwa apapun yang sudah Allah berikan kepada kita, itu sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat kita senantiasa berterima kasih kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya.
Kesadaran yang paling baik adalah yang lahir dari dalam hati, bersemi, dirawat, berkembang besar sampai memberikan buah dalam kehidupan kita sehari-hari. Semakin seseorang tahu hakikat dirinya, semakin pintar ia bersyukur kepada Penciptanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)